TEMUANRAKYAT, SUMENEP – Expo Keris Sumenep 2026 secara resmi dibuka di Edutorium Jhaga Tembha, Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura), pada hari Kamis (12/3/2026). Acara dengan tema “Keris di Madura: Identitas, Budaya, dan Sejarah” ini berfungsi sebagai platform bagi akademisi, empu keris, dan mahasiswa untuk mendiskusikan keris sebagai elemen penting dari identitas budaya masyarakat Madura.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pembukaan acara ini dihadiri oleh empu keris perempuan Ika Arista, Wakil Rektor I UNIBA Madura Budy Suswanto, S. T, M. T. , yang mewakili rektor, Wakil Rektor II Raden H. Khaeru Ahmadi, S. Pt. MT. , serta Ketua BEM UNIBA Madura M. Rofiqul Mukhlisin. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat yang peduli akan pelestarian budaya keris.
Wakil Rektor I UNIBA Madura Budy Suswanto menekankan bahwa keris memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada hanya sekadar benda pusaka. Ia menyatakan bahwa keris berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur.
“Keris mencerminkan identitas sekaligus filosofi kehidupan. Banyak pelajaran dan nilai yang diteruskan oleh nenek moyang kita melalui keris,” ungkap Budy Suswanto saat memberikan sambutan.
Ia mengajak para mahasiswa untuk memanfaatkan Expo Keris Sumenep 2026 sebagai kesempatan belajar untuk lebih memahami keris, terutama dalam konteks budaya Madura.
“Melalui expo ini, saya berharap mahasiswa dapat mempelajari keris tidak hanya dari segi fisiknya, tetapi juga dari sisi filosofi dan pandangan hidup masyarakat Madura yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.
Budy juga menyebutkan beberapa tradisi yang berkaitan dengan keris dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kebiasaan menempatkan keris di posisi belakang, yang menurutnya memiliki makna simbolis tertentu.
“Dalam tradisi Madura, keris sering diletakkan di belakang. Itu melambangkan bahwa dalam menghadapi masalah, musyawarah dan diskusi harus diutamakan. Keris menjadi pilihan terakhir jika benar-benar terpaksa,” jelasnya.
Dia berpendapat bahwa keris tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan identitas masyarakat Madura. Oleh karena itu, generasi muda harus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Ketika kita berbicara tentang keris, sebenarnya kita berbicara tentang budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Madura itu sendiri,” ucapnya.
Ia juga mengakui bahwa kemajuan teknologi membuat generasi muda semakin menjauh dari warisan budaya seperti keris. Oleh sebab itu, acara seperti expo sangat penting untuk mengurangi jarak tersebut.
“Perkembangan teknologi kadang-kadang membuat generasi muda menjauh dari tradisi. Oleh karena itu, saya berharap semangat yang ada dalam tradisi keris dapat mengalir dan menginspirasi mahasiswa kita,” tambahnya.
Di sisi lain, empu keris perempuan Ika Arista mengungkapkan masih adanya stereotip yang kuat di masyarakat mengenai keris dan profesi empu. Ia sering mendengar pandangan bahwa empu memiliki citra tertentu yang kaku dan terkait dengan maskulinitas.
“Saya sering menjumpai stereotip tentang empu, mulai dari penampilan hingga anggapan bahwa keris tidak lagi relevan di era modern. Bahkan ada yang bertanya, apakah keris masih laku di zaman teknologi canggih seperti sekarang,” kata Ika.
Ia berpendapat bahwa stereotip ini muncul karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai keris sebagai bagian dari kebudayaan.
“Terlebih lagi, saya seorang perempuan, sementara keris sering diasosiasikan dengan simbol maskulinitas. Stereotip semacam ini masih cukup kuat ada di masyarakat,” ujarnya.
Ika menegaskan bahwa keris kini tidak dapat dilihat hanya sebagai senjata tradisional. Ia menunjukkan bahwa di tingkat global, keris telah diakui sebagai warisan budaya yang mengandung nilai sejarah dan kultural.
“Keris kerap dipandang hanya sebagai senjata atau benda tradisional. Namun, UNESCO telah menetapkannya sebagai warisan budaya non-benda. Ini berarti yang dihargai tidak hanya benda itu sendiri, tetapi juga nilai-nilai budaya yang ada di sekitarnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keris dianggap sebagai warisan budaya non-benda karena pembelajarannya mencakup bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga sejarah, identitas, dan budaya yang menyertainya.
“Yang dipelajari bukan hanya bentuk keris itu sendiri, tetapi juga sejarah, identitas, dan budaya yang terkait. Ini yang membuat keris diakui sebagai warisan budaya non-benda,” katanya.
Dalam tradisi Madura, Ika melanjutkan, keris memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai upacara sosial masyarakat.
“Di dalam tradisi Madura, keris terlibat dalam banyak ritus kehidupan, mulai dari tanda kelahiran, tanda kedewasaan, hingga sebagai simbol dalam tradisi jamasan atau pencucian keris yang dilakukan setiap tahunnya,” ujarnya.
Ia berpendapat bahwa kurangnya pemahaman sering menyebabkan masyarakat salah kaprah dalam melihat keris dan mengaitkannya dengan hal-hal mistis.
“Kerisa sering dihubungkan dengan hal-hal klenik karena kurangnya pengetahuan. Saat masyarakat tidak mengenali konteks budaya dan sejarahnya, keris rentan disalahartikan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyebut keris sebagai elemen dari identitas budaya masyarakat yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial.
“Keris itu mirip dengan bahasa. Jika kita meninggalkan bahasa, identitas kita akan hilang. Begitu juga dengan keris, jika keris kita abaikan, kita akan berisiko kehilangan akar budaya kita sendiri,” tegasnya.
Ika juga memperingatkan bahwa keris dapat diteliti secara akademis dari berbagai bidang ilmu, seperti metalurgi, seni, hingga pariwisata berbasis pendidikan.
“Membahas keris tidak harus selalu terhubung dengan hal-hal mistis. Keris dapat dipelajari secara akademik, misalnya dengan kajian metalurgi, estetika seni, atau pengembangan pariwisata yang berorientasi pendidikan,” ujarnya.
Ketua BEM UNIBA Madura M. Rofiqul Mukhlisin berpendapat bahwa Expo Keris Sumenep 2026 adalah bentuk peran aktif generasi muda dalam menghidupkan kembali budaya lokal.
“Expo keris ini merupakan langkah kami, generasi muda, untuk kembali mengenali budaya kita sendiri,” kata Rofiqul.
Ia beranggapan bahwa pemahaman tentang keris tidak seharusnya berhenti pada slogan atau simbol identitas saja.
“Kita sering mendengar Sumenep disebut sebagai kota keris. Namun, yang lebih penting adalah memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi keris itu sendiri,” ujarnya.
Expo Keris Sumenep 2026 adalah bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2026 yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini bertujuan untuk mendukung kegiatan budaya yang berkelanjutan dan memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda.
Sebelumnya, pada (2/3/2026), tim pelaksana juga telah menyelenggarakan kegiatan awal yang berupa seminar budaya dan buka bersama di Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian awal menjelang pembukaan expo.
Expo Keris Sumenep 2026 direncanakan berlangsung selama tiga hari, dari 12 hingga 14 Maret 2026. Selama acara, berbagai kegiatan akan diadakan, mulai dari pameran keris, diskusi budaya, hingga dialog dengan para empu, akademisi, serta mahasiswa tentang nilai-nilai budaya dalam tradisi keris. (*)