Dubes Iran Untuk Indonesia Soroti Eskalasi Serangan Amerika Dan Israel

4 menit membaca
Dinar Soleha
International - 02 Mar 2026

TEMUANRAKYAT, JAKARTA – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan yang tegas tentang perkembangan terkini di negaranya yang melibatkan meningkatnya serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Boroujerdi menekankan aksi aliansi tersebut yang menargetkan tokoh-tokoh kunci dan pemimpin negara meski mereka terus-menerus mendukung perdamaian.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

“Koalisi antara Amerika Serikat dan Israel telah melakukan pembunuhan terhadap seorang tokoh, seorang ulama, dan pemimpin dari sebuah negara. Dalam fatwanya, karena beliau seorang marja atau ulama yang diacu, beliau menyatakan bahwa semua bentuk penyimpangan, pembuatan, penggunaan, dan perdagangan senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir, adalah tindakan yang dilarang. Amerika Serikat dan Israel membunuh seorang pemimpin yang memiliki pandangan dan sikap seperti yang saya jelaskan ini,” ungkap Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2 Maret 2026).

Boroujerdi juga mengkritik klaim bantuan demokrasi dari Washington, yang dinilainya bertentangan dengan catatan perpanjang intervensi mereka di Iran sejak tahun 1953. Dia menyatakan bahwa keterlibatan AS selama ini hanya membawa kehancuran, mulai dari dukungan atas kudeta terhadap Mohammad Mosaddegh hingga sanksi ekonomi yang menyiksa masyarakat dan anak-anak.

“Kenyataan lain yang ironis adalah pernyataan yang mereka buat, yaitu Amerika Serikat berusaha untuk membantu rakyat Iran. Saya ingin tahu bantuan seperti apa ini? Sampai sekarang sudah 200 anak SD yang menjadi korban. Jenis bantuan apa yang mereka maksudkan? Dunia tentu telah menyadari dan mengenal berbagai macam ‘bantuan’ yang diberikan oleh Amerika Serikat. Kita telah melihat contoh-contohnya di Irak, Afghanistan, dan berbagai kawasan lainnya di dunia. Sumbangan Amerika Serikat tidak lebih dari kehancuran, kelaparan, dan kerusakan total sebuah negara. Apakah ada manfaat lain? Saya rasa tidak ada,” tegasnya.

Dia juga memaparkan serangkaian agresi fisik yang dilakukan oleh AS dan Israel, termasuk serangan terhadap pesawat sipil pada tahun 1988 dan pembunuhan jenderal tinggi pada tahun 2020. Boroujerdi menyatakan bahwa serangan terbaru pada tahun 2024 dan 2025 merupakan puncak dari provokasi yang menargetkan lokasi militer, ekonomi, hingga fasilitas nuklir yang damai.

“Sejak tahun 2010, Amerika memberlakukan beragam sanksi berat kepada Iran, dan pada tahun 2020, ketika mereka menyadari tidak berhasil membuat Iran menyerah, mereka melakukan teror terhadap seorang jenderal senior Iran yang merupakan tokoh dan pahlawan melawan ISIS di Irak. Mereka terlibat langsung dalam pembunuhan ini. Pada tahun 2024, mereka mendorong rezim Zionis Israel untuk menyerang sebuah konsulat Iran di luar negeri. Pada tanggal 26 Oktober 2024, mereka memberikan dorongan kepada rezim tersebut untuk menyerang lokasi militer Iran, tempat ekonomi, masyarakat sipil, dan orang-orang tidak bersalah lainnya,” jelasnya.

Ketegangan meningkat lebih jauh pada Juni 2025, di mana Boroujerdi menyebutkan bahwa ada serangan selama 12 hari berturut-turut menggunakan senjata buatan AS. Serangan ini tidak hanya menewaskan pejabat militer senior, tetapi juga menargetkan infrastruktur nuklir yang berada dalam pengawasan badan internasional IAEA.

Dan pada bulan Juni 2025, dengan dukungan dari Amerika Serikat yang menggunakan senjata asal mereka, mereka melancarkan serangan selama 12 hari di Iran, mengakibatkan banyak pejabat tinggi militer dan pemimpin di negara kami tewas. Pada waktu yang bersamaan, di bulan Juni 2025, mereka juga menyerang fasilitas nuklir damai Republik Islam Iran yang berada di bawah pengawasan langsung IAEA, ujar dia.

Lebih jauh, Boroujerdi menuduh adanya kegiatan intelijen dari agen CIA dan Mossad yang mengubah aksi damai masyarakat menjadi kerusuhan yang berdarah. Dia menyebut strategi ini sebagai proyek untuk menciptakan sebanyak mungkin korban guna memberikan legitimasi bagi serangan militer terhadap kedaulatan Iran dengan alasan perlindungan hak asasi manusia.

“Setelah itu, mereka melaksanakan proyek untuk menciptakan korban sebanyak mungkin. Tentu saja agen-agen CIA dan Mossad terlibat di tengah-tengah mereka untuk menciptakan banyak korban, dan selanjutnya dengan alasan ingin mendukung masyarakat yang berdemonstrasi, mereka mulai menyerang Iran. Para pemilik media mainstream yang terhubung dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel berusaha untuk mengganti kebenaran dengan kebohongan, mengganti hak dengan kebatilan. Mungkin mereka bisa menaklukkan masyarakat biasa dan meyakinkan mereka, tetapi saya yakin kaum media tidak akan terpengaruh oleh mereka,” kata Boroujerdi.

Di akhir, ia menyoroti standar ganda barat yang mengabaikan krisis kemanusiaan di Gaza, sementara terus mencampuri urusan Iran. Ia memberikan penghargaan atas dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia yang tetap berpihak pada kebenaran sejarah dengan mengutuk agresi terhadap negaranya.

“Jika memang Amerika Serikat dan Israel benar-benar peduli dan khawatir tentang hak asasi manusia, mengapa mereka tidak menerapkan pendekatan yang sama di Gaza dan mengabaikan kondisi HAM di sana? Jika mereka khawatir tentang keadaan anak-anak dan perempuan, mengapa anak-anak dan wanita di Gaza dibiarkan begitu saja dan puluhan ribu dari mereka menjadi korban? Ini adalah contoh standar ganda yang sudah tidak bisa diterima oleh publik. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia yang telah berdiri di pihak yang benar dari sejarah, sisi yang benar dari sejarah, dan memberikan kutukan tegas terhadap langkah-langkah serius terhadap negara kami,” tutupnya.

Bagikan Disalin
CLOSE ADS