Perjalanan kemanusiaan kali ini membawa Slamet ke wilayah perbatasan antara Desa Gunung Rancak dan Desa Bunten Barat, Kabupaten Sampang. Di lokasi tersebut, Bu Sutiah dan Pak Congkenik menempati sebuah hunian yang jauh dari standar kelayakan. Sebelumnya, Pak Sahidi melaporkan kondisi keluarga ini karena merasa iba melihat tempat tinggal mereka yang kian memprihatinkan.
Kemudian, Slamet mendatangi lokasi dengan pendampingan dari relawan serta Tim Slamet Ariyadi Peduli. Keluarga Pak Congkenik menyambut kedatangan mereka dengan suasana penuh haru. Bagi mereka, kehadiran pejabat negara di gubuk tersebut bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah harapan baru.
Dalam kesempatan tersebut, Slamet menyerahkan bantuan paket sembako serta uang tunai. Bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi harian mereka. Namun, Slamet tidak menghentikan perhatiannya pada bantuan jangka pendek saja. Setelah melihat kondisi bangunan yang tidak layak, ia langsung mencanangkan program renovasi. Selain itu, ia menegaskan komitmennya untuk memperbaiki rumah tersebut secara total.
“Hati saya terenyuh melihat kondisi ini. Kita tidak hanya memberi bantuan sesaat, tetapi kita berkomitmen memperbaiki rumah ini. Tujuannya agar Pak Congkenik dan Bu Sutiah bisa beristirahat dengan rasa aman. Sebab, rumah layak adalah hak dasar setiap manusia,” tegas Slamet dengan penuh empati.
Bu Sutiah pun tak henti-hentinya mengucap syukur atas kepedulian tersebut. Bahkan, ia menyampaikan rasa terima kasihnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih Pak Slamet sudah meluangkan waktu melihat kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak,” ungkapnya lirih.
Aksi nyata ini membuktikan bahwa birokrasi tidak boleh membatasi kepedulian sosial. Melalui nurani yang tajam, Slamet Ariyadi memastikan bahwa tidak ada warga yang merasa sendirian dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Tidak ada komentar