Seminar Budaya Keris dan Bukber, Kuatkan Identitas Generasi Muda di Expo Keris Sumenep 2026

4 menit membaca
Dinar Soleha
Daerah - 04 Mar 2026

TEMUANRAKYAT, SUMENEP – Upaya merawat dan menguatkan identitas budaya lokal kembali ditegaskan melalui kegiatan Seminar Budaya Keris dan Buka Bersama yang digelar pada Senin, 02 Maret 2026, di Aula Pondok Pesantren Tanwirul Hija, Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Expo Keris Sumenep 2026 yang mengusung tema “Keris di Madura: Identitas, Budaya, dan Sejarah.”

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Seminar ini merupakan bentuk pemanfaatan Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2026 yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini diarahkan untuk mendukung kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan, termasuk penguatan literasi budaya di kalangan generasi muda.

Kegiatan dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tanwirul Hija, KH. Ahmad Dumairi Asy’ari, S.Ag, sebagai tuan rumah, Fathor Rahman selaku pemateri dan representasi aktivis serta pengrajin keris di Madura, serta Syamsul Arifin, PhD, dosen Universitas Wiraraja Sumenep yang fokus pada manajemen pariwisata. Ratusan siswa-siswi turut mengikuti kegiatan dengan antusias, terlebih karena rangkaian acara ditutup dengan buka bersama.

Dalam sambutannya, KH. Ahmad Dumairi Asy’ari menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini sebab dengan program seperti ini anak didik atau siswa siswi dapat mengetahui akar sejarah mereka.”

Ia juga mengingatkan bahwa sebelumnya para siswa telah melakukan studi lapangan ke Aeng Tong-Tong, kawasan pengrajin keris di Sumenep.

“Kemarin siswa-siswi kami pernah studi lapangan ke Aeng Tong-Tong (kawasan pengrajin keris di Sumenep, red.). Dari situ saya bersyukur dengan adanya kegiatan ini, sebab ini menjadi follow up pengetahuan bagi anak didik kami.”

Lebih jauh, ia berharap keris tidak lagi dipahami sebagai benda yang berjarak dengan generasi muda.

“Harapan saya adalah keris ini mampu menjadi semacam warisan yang tidak lagi berjarak dengan generasi muda, tetapi justru sesuatu yang membuat mereka bangga.”

Sementara itu dalam pemaparannya, Fathor Rahman menekankan pentingnya pelurusan perspektif tentang keris. Ia menilai bahwa masih banyak masyarakat awam yang melihat keris semata dalam bingkai mistis.

“Yang paling penting dipahami bahwa keris ini bukan hanya urusan mistis dan klenik. Banyak di antara awam yang melihat keris sebatas mistis. Padahal, keris menyimpan makna yang lebih dalam daripada itu, baik secara spiritual maupun filosofis.”

Ia menjelaskan bahwa ragam pamor pada keris mengandung simbol dan doa yang diwariskan turun-temurun. Beberapa di antaranya seperti Pamor Beras Wutah yang mengidikasikan tentang keberlimpahan rezeki, Pamor Udan Mas yang bernuansa keberuntungan atau kekayaan, Pamor Banyu Mili sebagai simbol rezeki yang mengalir lancar, hingga Pamor Pedaringan Kebak yang melambangkan kemakmuran dan kecukupan. Ini bukan klenik, tetapi harapan yang terkandung dalam karya seni luhung.

Ketika ditanya mengenai keunikan keris Madura, khususnya Sumenep, Fathor memberikan penjelasan yang menegaskan posisi daerah tersebut dalam peta perkerisan Nusantara.

“Para empu di Madura ini memiliki keunikan, sebab dibanding daerah lain yang hanya mampu memproduksi keris jenis tertentu, para empu di Sumenep sangat pandai dalam membuat jenis keris dari seluruh penjuru Nusantara. Lebih dari itu, Sumenep merupakan salah satu daerah yang menyimpan pengrajin banyak sekali, khususnya di kawasan Aeng Tong-Tong. Itulah alasan mengapa Sumenep akhirnya dinobatkan menjadi Kota Keris.”

Dari perspektif berbeda, Syamsul Arifin, PhD, mengajak para siswa melihat keris melalui kacamata manajemen pariwisata dan promosi budaya.

“Saya ingin melihat perihal budaya atau keris ini dalam kacamata yang memang saya tekuni, yakni manajemen pariwisata. Adik-adik siswa-siswi ini adalah generasi yang melekat dengan segenap kecanggihan teknologi seperti media sosial dan AI. Dengan semua keberlimpahan itu, besar harapan saya supaya kalian menjadi agen-agen yang mampu memperkenalkan keris dengan lebih elegan, sesuai dengan gerak zaman, dan lebih luas lagi.”

Menurutnya, keberlanjutan budaya tidak cukup hanya dengan pelestarian pasif, tetapi juga membutuhkan strategi promosi yang adaptif.

“Budaya ini harus sustain. Dan untuk mencapai itu, harus ada promosi. Nah, di situlah adik-adik dapat mengisi celah. Belajar soal keris dan budaya bukan hanya soal langsung menjadi praktisi atau pengrajin, tetapi juga dapat menjadi agen-agen promotor itu.”

Ia pun menutup dengan tantangan yang disambut semangat para peserta.

“Siap nggak kalian mengisi celah itu? Menjadi agen-agen muda dalam memperkenalkan keris lebih luas lagi? Oleh karena itu, kalian perlu belajar dan paham apa yang kalian promosikan. Kegiatan seperti ini menjadi gerbang pembuka untuk kalian supaya lebih dalam mempelajari hal tersebut.”

Seminar yang dipadukan dengan buka bersama ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang dialog lintas generasi antara pesantren, pengrajin, akademisi, dan pelajar. Melalui kolaborasi yang difasilitasi oleh Dana Abadi Kebudayaan, kegiatan ini diharapkan menjadi titik temu antara warisan masa lalu dan tantangan masa depan.

Keris, dalam konteks ini, tidak sekadar bilah logam berlekuk, melainkan narasi panjang tentang identitas, spiritualitas, kreativitas, dan daya tahan budaya Madura. Dan di Aula Pondok Pesantren Tanwirul Hija sore itu, narasi tersebut diharapkan mampu menemukan generasi penerusnya.

Bagikan Disalin
CLOSE ADS