TEMUANRAKYAT, OPINI – Hari ini dunia sedang dihadapkan ketidakpastian politik dan ekonomi global dengan terus meningkatnya tensi politik dunia terhadap perilaku Amerika Serikat yang berdampak kepada terjadinya konflik di beberapa kawasan. Konflik Rusia-Ukraina berlarut, Israel-Palestina, Perang Saudara Yaman di Timur Tengah, dan Tiongkok-Taiwan serta manuver Amerika Serikat terhadap Iran dan Greenland.
Fenomena multikonflik ini membuat perekonomian dunia penuh dengan ketidakpastian, khususnya terganggunya ekosistem rantai pasok global, hingga sangat fluktuatifnya nilai tukar mata uang yang berdampak pada ketidakpastian terhadap pasar. Kejadian ini memberikan pukulan signifikan bagi ekonomi dunia khususnya Indonesia sebagai middle power country yang dimana Indonesia masuk pada ekosistem rantai pasok dan jalur distribusi global.
Oleh karena itu kecenderungan para negara dunia membangun aliansi multi negara dalam bidang ekonomi seperti BRICS, kemudian Amerika Serikat dengan koalisi pertahanannya untuk Gaza. Hal ini dilakukan untuk setiap negara memiliki komitmen untuk tetap menciptakan rasa aman, kekondusifan dan keterjangkauan atas komoditas dan rute perdagangan. Langkah ini menjadi langkah rasional yang harus diambil oleh berbagai negara demi menjaga kelangsungan hidup warga negaranya.
Posisi Indonesia sebagai negara yang dilalui perdagangan global menciptakan peran stategis untuk Indonesia dalam mengoptimalkan Selat Malaka. Kekondusifan dan amannya Selat Malaka sebagai tulang punggung rute ekosistem perdagangan dunia, sangat berpengaruh atas rantai pasok komoditas global yang berkelanjutan, hal ini harus dijadikan Indonesia sebagai momentum dalam rangka “keikutsertaan Indonesia melaksanakan ketertiban dunia”.
Maka bila konflik di Timur Tengah meluas dan berdampak terhadap lalu lintas perdagangan dunia terutama di Selat Hormuz dan Terusan Suez. Salah satu pilihan rasional pertumbuhan ekonomi dunia pada kawasan Asia-Pasifik yang dimana rute perdagangan dengan menggunakan Selat Malaka menjadi kunci supply dan demand.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh World Economic Forum pada tahun 2024, mengatakan bahwa 80% perdagangan dunia ditopang oleh jalur laut. Serta Selat Malaka memiliki kontribusi 30%, Selat Hormuz 20%, dan Terusan Suez 12-15% dalam jalur perdagangan Global. Artinya Indonesia harus secara aktif mengoptimalkan Selat Malaka dalam menopang perdagangan dunia serta potensinya sebagai jalur utama dalam pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia pada kawasan Asia-Pasifik, bilamana Selat Hormuz dan Terusan Suez tidak dapat berperan optimal akibat meluasnya konflik di Timur Tengah.
Maka Presiden Prabowo Subianto, harus segera mendorong adanya ratifikasi perjanjian Malsindo dan Malacca Straits Patrol denga tujuan Selat Malaka sebagai poros terciptanya kedamaian dunia.
***
*)Penulis bernama Nasrullah Hamid, Founder Indonesia Muda.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi temuanrakyat.com
*)Rubik opini di website Temuan Rakyat untuk umum. Naskah dapat dikirim ke alamat e-mail: redaksitemuanrakyat@gmail.com
*)Redaksi Temuan Rakyat berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Tidak ada komentar