Santri Indonesia: Menjawab Tantangan Bangsa, Melampaui Bayang Feodalisme

5 menit membaca
Dinar Soleha
Opini - 24 Okt 2025

*Penulis adalah Bobby Trilaksono, M.Sos, Peneliti di Lentera Huma Berhati (LHB)

*Tulisan dari Bobby Trilaksono tidak mewakili pandangan dari redaksi temuanrakyat.

TEMUANRAKYAT, OPINI – Santri bukan sekadar pewaris tradisi, tetapi aktor sosial yang mampu merekonstruksi makna kebangsaan dan keadilan dalam lanskap struktur sosial Indonesia.

Dalam kerangka sosiologi, dapat dipahami sebagai subjek kultural sekaligus agen transformasi sosial yang memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan bangsa. Mereka tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai spiritual, tetapi juga sebagai komunikator budaya, mediator sosial, dan katalisator perubahan struktural.

Di tengah arus modernitas dan residu feodalisme yang masih mengakar dalam relasi sosial-politik, santri tampil sebagai entitas yang mampu mengartikulasikan nilai-nilai keislaman dalam bahasa kebangsaan yang inklusif dan progresif. Santri sebagai Komunikator Sosial. Dalam perspektif komunikasi, santri memainkan peran sebagai opinion leader dalam komunitasnya.

Mereka menguasai kode simbolik yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan realitas sosial. Melalui ceramah, pengajian, media sosial, hingga khutbah Jumat, santri menyampaikan pesan-pesan moral dan etika yang membentuk opini publik. Proses ini disebut sebagai komunikasi transaksional, di mana pesan tidak hanya ditransmisikan, tetapi dinegosiasikan secara aktif antara pengirim dan penerima dalam konteks budaya yang dinamis.

Namun, tantangan muncul ketika komunikasi santri terjebak dalam frame feodalistik di mana otoritas dihormati secara absolut tanpa ruang kritik. Dalam konteks ini, santri progresif berupaya mendekonstruksi narasi-narasi dominan yang membungkam partisipasi kritis. Mereka mengedepankan komunikasi dialogis ala Paulo Freire, yang menempatkan umat sebagai subjek aktif dalam proses pembebasan sosial.

Feodalisme sebagai Struktur Sosial yang Menghambat

Feodalisme dalam konteks Indonesia bukan sekadar warisan kolonial atau kerajaan, tetapi juga termanifestasi dalam relasi kuasa yang hierarkis dan patronistik. Dalam banyak komunitas, termasuk pesantren, relasi antara kiai dan santri kadang masih bersifat vertikal dan menutup ruang partisipasi. Ini menciptakan struktur sosial tertutup yang menghambat mobilitas sosial dan inovasi pemikiran.

Sosiolog seperti Max Weber menyebut ini sebagai bentuk otoritas tradisional, di mana legitimasi berasal dari adat dan warisan. Santri yang kritis berupaya menggeser otoritas ini menuju otoritas rasional-legal, di mana kepemimpinan didasarkan pada kompetensi, akuntabilitas, dan partisipasi. Dalam konteks ini, santri tidak lagi hanya tunduk, tetapi juga turut serta dalam merumuskan arah perubahan sosial.

Melampaui bayang feodalisme menuju “Santri Emansipatif”, adalah mereka yang tidak hanya ta’dzim kepada guru, tetapi juga kritis terhadap struktur yang menindas. Mereka tidak menolak tradisi, tetapi merekonstruksinya agar relevan dengan zaman. Dalam istilah sosiologi, ini disebut sebagai refleksivitas structural kemampuan individu untuk memahami dan mengubah struktur sosial yang membentuknya.

Santri emansipatif juga mengembangkan literasi digital dan kapasitas komunikasi publik untuk memperluas pengaruhnya. Mereka hadir di ruang-ruang virtual sebagai influencer moral, membangun narasi alternatif yang menolak kekerasan, intoleransi, dan oligarki. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi produsen wacana yang membebaskan.

Santri dan Tantangan Kebangsaan

Tantangan bangsa hari ini mencakup krisis identitas, ketimpangan sosial, polarisasi politik, dan degradasi moral. Santri sebagai agen perubahan memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan ini melalui pendekatan komunikasi lintas budaya dan sosiologi inklusif. Mereka mampu menjembatani antara nilai-nilai lokal dan tuntutan global, antara tradisi dan inovasi.

Sebagai contoh, dalam isu keadilan sosial, santri dapat mengartikulasikan konsep al-‘adl (keadilan) dan al-maslahah (kemaslahatan umum) dalam bahasa kebijakan publik. Dalam isu lingkungan, mereka dapat mengangkat nilai khalifah fil ardh (pemelihara bumi) sebagai dasar etika ekologis. Dalam isu demokrasi, mereka dapat mendorong musyawarah dan ijtihad sosial sebagai bentuk partisipasi deliberatif.

Takdzim sebagai Komunikasi Spiritual dan Sosial

Framming media sosial akhir-akhir ini, adab mencium tangan guru atau kiai dan merendahkan diri bukan sekadar gestur fisik, melainkan simbol komunikasi spiritual dan sosial yang sarat makna. Ia merepresentasikan takdzim penghormatan yang tidak membungkam, tetapi membuka ruang dialog dan keberkahan.

Dalam perspektif sosiologi simbolik, tindakan ini adalah ritual interaksi yang memperkuat ikatan sosial dan legitimasi moral. Namun, “santri emansipatif” memahami bahwa takdzim tidak berarti tunduk pada struktur feodal, melainkan menghormati ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan yang membebaskan.

Namun, penting dibedakan antara takdzim yang membebaskan dan feodalisme yang membelenggu. Santri yang mencium tangan dengan kesadaran spiritual tidak sedang menundukkan diri secara struktural, tetapi sedang membuka diri terhadap keberkahan ilmu. Mereka merendahkan hati, bukan martabat. Mereka menghormati, bukan mengkultuskan. Dengan demikian, santri Indonesia melangkah ke depan bukan dengan membuang tradisi, tetapi dengan merevitalisasi maknanya.

Santri sebagai subjek historis dan kultural, Santri Indonesia bukanlah entitas pasif dalam sejarah bangsa. Mereka adalah subjek historis yang telah membuktikan kontribusinya sejak era kolonial hingga reformasi. Kini, tantangan mereka adalah melampaui bayang-bayang feodalisme yang membatasi potensi kolektif.

Dengan pendekatan komunikasi yang dialogis dan kesadaran sosiologis yang kritis, santri dapat menjadi pelopor peradaban baru yang adil, inklusif, dan berkeadaban. Dalam sosiologi simbolik, ini disebut sebagai ritual interaksi praktik yang memperkuat ikatan sosial dan legitimasi moral dalam komunitas pesantren.

Santri emansipatif tetap mencium tangan kiai dan merendahkan diri, tetapi juga berani berdialog, bertanya, dan berpikir kritis. Mereka memahami bahwa takdzim bukan berarti membungkam nalar, melainkan menyelaraskan akhlak dengan ilmu. Dalam konteks ini, takdzim menjadi jembatan antara tradisi dan transformasi.

Sebagaimana ditegaskan dalam refleksi Hari Santri 2025, perjuangan santri hari ini adalah al-jihād al-‘ilmī, al-jihād al-akhlāqī, dan al-jihād al-ijtima‘ī perjuangan ilmu, moral, dan sosial. Maka, santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penerus masa depan bangsa.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS