TEMUANRAKYAT, JAKARTA – Danau Toba, destinasi pariwisata super prioritas, punya potensi besar jadi primadona dunia. Sebagai danau vulkanik terbesar di dunia dan danau umum terbesar di Asia Tenggara, Danau Toba telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Park. Keunikan sejarah dan geologis ini menjadi branding kuat yang menarik perhatian peneliti budaya hingga geolog dari berbagai belahan dunia.
Pemerintah Presiden Jokowi menunjukkan keseriusan dalam pengembangan pariwisata Danau Toba dengan menerbitkan Perpres Nomor 49 tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba (BPODT). Pada 2019, Danau Toba ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional (DPSPN) bersama Labuan Bajo, Borobudur, Likupang, dan Mandalika.
Namun, pengembangan ini tak lepas dari tantangan strategis, mulai dari peningkatan ekonomi, inovasi, sinergi pihak terkait, hingga regulasi. Persoalan ini dibahas tuntas dalam dialog publik “Menatap Masa Depan Danau Toba” yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa/I Batak Nasional (IMAIBANA), Fakultas Hukum UKI, dan Lentera Sahabat Indonesia di Universitas Kristen Indonesia (UKI) (13/6). Hadir dalam diskusi ini Jimmy Panjaitan (BPODT), Lamhot Sinaga (Wakil Ketua Komisi 7 DPR RI), dan Hulman Panjaitan (Wakil Rektor UKI).
Pariwisata sebagai Lokomotif Ekonomi
Lamhot Sinaga menyoroti potensi besar sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi. “Pada 2024, pariwisata berkontribusi 4,01-4,5% terhadap PDB nasional. Devisa pariwisata pada 2019 bahkan melampaui Migas dan Ekspor Non-Migas dengan USD 20 miliar. Ini membuktikan pariwisata bisa jadi andalan utama pendapatan negara,” jelasnya.
Danau Toba, dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, memiliki potensi besar untuk menjadi model eco-tourism berkelas dunia. Lamhot Sinaga mencontohkan danau-danau dunia yang sukses dengan strategi uniknya, seperti Danau Como (Italia) dengan villa mewah dan promosi selebritas, Danau Geneva (Swiss) dengan event internasional, Danau Tahoe (AS) dengan wisata empat musim, dan Danau Kawaguchi (Jepang) dengan keindahan alamnya. Ia menyarankan pengembangan eco-spiritual tourism berbasis budaya Batak (Dalihan Na Tolu, Habonaran do Bona), serta leisure tourism seperti spa alam, yoga resort, dan pusat kesehatan berbasis budaya.
Senada dengan itu, Jimmy Bernando Panjaitan, Direktur Utama BPODT, menekankan eco-tourism berkelas dunia yang mengintegrasikan destinasi wisata alam dan budaya. “BPODT memiliki master plan di Toba Caldera Resort yang mencakup destinasi wisata alam (warisan geologi), warisan budaya (nilai Batak), dan rekreasi (resort tenang dengan pemandangan indah),” ungkap lulusan ITB ini.
BPODT juga mencatat pendapatan wisatawan nusantara di Danau Toba mencapai Rp 21,25 triliun, melampaui Bali. BPODT berkomitmen terhadap zero waste dan standar green global, menyediakan 30% area terbuka hijau, menargetkan 30.000 lebih talenta dan tenaga kerja pariwisata, investasi Rp 26 triliun, dan 22.000 pengunjung per hari.
Sinergi dan Muatan Lokal Kunci Peningkatan Dampak
Sinergi berbagai pihak menjadi kunci pengembangan pariwisata Danau Toba. BPODT berinovasi dengan menggandeng sektor swasta, transportasi, dan teknologi, seperti kerja sama dengan Telkom untuk platform digital, promosi melalui film, dan penerapan e-ticketing kapal ferry. “Penggunaan teknologi sangat impactful bagi pariwisata Danau Toba, e-ticketing memangkas antrean yang biasanya berlarut-larut,” ujar Jimmy Panjaitan.
Muatan lokal juga menjadi bagian penting dalam membangun pariwisata Danau Toba. “Muatan lokal dijadikan kurikulum yang mencakup etika, edukasi budaya, membangun kesadaran, dan membudayakan pariwisata sebagai bagian dari masyarakat Danau Toba,” tambah Jimmy Panjaitan, menegaskan pentingnya pendidikan yang berkelanjutan.
Hulman Panjaitan, dosen senior UKI, menyoroti potensi eksotisme alam Danau Toba dan nilai historisnya, seperti Tarabunga Air Terjun Efrata, Pusuk Buhit, dan Bukit Indah Simarjarunjung. Ia menekankan peran perguruan tinggi dalam pengembangan Danau Toba melalui Tri Dharma perguruan tinggi, kurikulum kearifan lokal, dan program kampus berdampak.
Efran Sihombing, Ketua Umum IMAIBANA, percaya sinergi dan kolaborasi, terutama pendekatan pentahelix (pemuda, masyarakat, akademisi, pemerintah), sangat penting. “Pendidikan adalah sektor kunci dan syarat utama untuk memajukan pariwisata Danau Toba,” tegasnya.
Tantangan dan Strategi Menuju Pariwisata Kelas Dunia
Tantangan strategis pengembangan Danau Toba mencakup fokus branding, kelestarian lingkungan dan budaya, kesadaran masyarakat, keterbatasan anggaran, hingga regulasi. Salah satu hambatan adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang membatasi hak guna tanah pariwisata hanya 30 tahun, sementara investor idealnya butuh minimal 50 tahun.
Menanggapi hal ini, Lamhot Sinaga menjelaskan bahwa Hak Guna Usaha (HGU) untuk green operation di omnibus law bisa sampai 80 tahun. “PMK Kemenkeu berbasis pada pendapatan negara sebesar-besarnya, tanpa memahami kebutuhan strategi menarik investasi. Jika hanya 30 tahun, investor mundur teratur,” kritiknya. DPR secara resmi telah meminta Kemenkeu mengubah aturan 30 tahun tersebut.
Untuk menjadikan Danau Toba lokomotif penggerak ekonomi dan kiblat pariwisata dunia, dibutuhkan inovasi dan strategi. BPODT mengusung “Trail of The Kings” sebagai rebranding kawasan, mengembangkan eco-culture tourism, geo-tourism, dan adventure tourism. “Trail of The Kings adalah pusat kegiatan luar ruangan global, di antaranya aerospace, bersepeda gunung, meditasi spiritual, forest-bathing, trail running, boating, dan berkuda,” papar Dirut BPODT.
Danau Toba juga memerlukan lebih banyak event internasional. Setelah F1 Powerboat dan Aquabike pada 2024 yang menghasilkan perputaran ekonomi fantastis, Lamhot Sinaga mendorong 6 event internasional lainnya, seperti Pacuan Kuda Asia Pasifik Series, Trail of The King Lake Toba, International Watersport Festival, Tour Danau Toba, Toba Caldera Ironman, hingga Paragliding World Series.
“Pariwisata adalah lokomotif pertumbuhan inklusif menuju visi Indonesia 2045,” pungkas Lamhot Sinaga.
Tidak ada komentar