Founder GYPEM Ahmad Qomaruddin Ungkap Teror Stalking dan Penipuan Miliaran: Hp Saya Hilang

3 menit membaca
Lydia Natali
News - 05 Des 2025

TEMUANRAKYAT, JAKARTA – Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM), Ahmad Qomaruddin, akhirnya buka suara terkait simpang siur informasi yang menyudutkan namanya belakangan ini.

Sosok muda yang dikenal aktif mengampanyekan pendidikan perdamaian ini mengungkapkan bahwa dirinya sedang menghadapi ujian berat. Ia menjadi korban kejahatan siber terstruktur yang bermula dari hilangnya ponsel (HP) miliknya pada Agustus lalu, yang berujung pada pencatutan namanya dalam kasus penipuan bernilai miliaran rupiah.

Kepada Temuan Rakyat, Ahmad membeberkan kronologi bagaimana data pribadinya dicuri, dimanipulasi, hingga dijadikan alat kejahatan.

Bantah Terlibat Penipuan Miliaran

Ahmad menyoroti kasus pencatutan nama yang paling merugikan, yakni penipuan finansial. KTP dan identitasnya digunakan pelaku untuk meyakinkan korban dengan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Saya tegaskan, saya TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas hutang piutang atau penipuan miliaran rupiah itu. Identitas saya dicuri dari HP yang hilang. Tolong masyarakat jangan transfer uang sepeserpun ke nomor asing yang mengaku sebagai saya,” pesannya tegas.

Diintai Lewat Lokasi Instagram (Digital Stalking)

Ahmad juga mengungkap modus pelaku yang memanfaatkan fitur lokasi (geo-tagging) di Instagram untuk meyakinkan para korban.

Ahmad yang saat ini berstatus mahasiswa dan sedang menempuh studi di Yogyakarta, mengakui bahwa pelaku memantau rutinitasnya secara real-time.

“Pelaku tahu persis di mana kos saya dan hotel tempat saya biasa menginap di Jogja karena fitur lokasi Instagram saya sempat aktif. Data lokasi itulah yang dipakai pelaku untuk membuat skenario chat palsu,” jelas Ahmad, kepada temuan rakyat (5/12/2025).

“Jadi, ketika saya memposting sedang di lokasi A, pelaku membuat chat palsu seolah-olah saya sedang di sana. Ini membuat orang percaya karena lokasinya akurat, padahal saya sedang diintai,” tambahnya.

Luruskan Fakta: Video Perjalanan yang Narasinya Dipelintir

Terkait beredarnya video pribadi yang dikaitkan dengan narasi negatif, Ahmad memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa video tersebut murni adalah dokumentasi perjalanan (traveling) dan aktivitas harian biasa yang dicuri pelaku dari arsip percakapan (chat) lama.

“Saya ingin meluruskan faktanya. Video itu adalah dokumentasi perjalanan biasa yang dulu saya kirim ke teman sebagai kabar lokasi. Namun, oleh pelaku, video netral itu dibingkai ulang dengan teks atau narasi yang tidak pantas seolah-olah video itu bermakna lain,” jelasnya.

Menurut Ahmad, manipulasi video perjalanan ini bertujuan untuk menjatuhkan moralnya sebagai seorang pendidik dan penggerak perdamaian.

Serangan Terhadap Ikon Pendidikan Perdamaian

Ahmad menduga serangan bertubi-tubi ini mulai dari penipuan uang, Deepfake AI suara, hingga manipulasi video bermotif pembunuhan karakter (character assassination). Mengingat posisinya sebagai Founder GYPEM, pelaku sengaja ingin merusak reputasinya.

Ahmad juga meminta maaf jika sempat ‘menghilang’ karena akun media sosialnya hingga milik keluarganya diretas (hack) secara masif oleh pelaku untuk membungkam klarifikasinya.

“Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih waspada menjaga data pribadi,” tutup Ahmad.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS