TRENDING

Dinilai Sebar Fitnah, Massa Desak Komdigi Tindak Tegas Konten Pandji Pragiwaksono

3 menit membaca
Lydia Natali
Daerah - 08 Jan 2026

TEMUANRAKYAT, JAKARTA – Tayangan Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono mendapat perhatian dari anggota Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemuda Muhammadiyah. Sekitar 1000 pemuda dari dua ormas Islam terbesar ini melakukan demonstrasi di depan kantor Komdigi dan Kantor KPI Jakarta Pusat pada Rabu (7/1/26).

Koordinator demonstrasi, Rizki Abdul Rahman Wahid, menyatakan bahwa Mens Rea yang ditayangkan di Netflix dianggap tidak lagi menjadi komedi yang sehat, tetapi lebih sebagai upaya untuk memanipulasi opini yang berpotensi menimbulkan rasisme, body shaming, ujaran kebencian, fitnah, dan merendahkan kelompok-kelompok masyarakat yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

“Pandji telah mencemari nilai-nilai komedi dengan menyampaikan materi yang bersifat rasis, mengarah pada opini tanpa dukungan bukti, serta merendahkan identitas dan kemampuan NU serta Muhammadiyah,” ungkap Rizki.

Dia juga menyebutkan bahwa anggapan Pandji mengenai politik balas budi kepada ormas Islam NU dan Muhammadiyah agar bisa mengelola tambang adalah sebuah fitnah yang kejam dan salah arah dalam memahami kritik.

“Lebih-lebih narasi yang menyatakan suara (pemilu) NU dan Muhammadiyah harus ditukar dengan pengelolaan tambang. Ini adalah tindakan merendahkan yang membawa kebencian yang tidak pantas diungkapkan,” kata Rizki yang juga merupakan anggota Nahdlatul Ulama.

Di tempat yang sama, ketua Aliansi Muda Muhammadiyah, Laode, merasa prihatin bahwa komedi yang disajikan oleh Pandji Pragiwaksono justru merendahkan organisasi Islam yang selama ini berperan dalam menjaga akal sehat, moral, dan kehidupan berbangsa.

“Kami merasa menyesal bahwa isu mens rea disampaikan dengan menjadikan NU dan Muhammadiyah sebagai bahan lelucon. Kedua organisasi ini merupakan rumah besar umat, yang selama ini berkontribusi dalam menjaga akal sehat, moral, dan kehidupan berbangsa. Humor dan kritik diperbolehkan, tetapi ketika menyangkut simbol keumatan, sebaiknya disampaikan dengan lebih bijak agar tidak menyakiti dan substansi hukum tetap jelas,” ujarnya.

Tak hanya itu, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda NU (AMNU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM) juga menggelar aksi protes di depan kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat di Jalan Ir. H. Juanda, Gambir, Jakarta Pusat.

Para pengunjuk rasa juga mengajukan tuntutan sebagai berikut:
1. Pemerintah Harus Memberikan Tindakan Tegas kepada Platform Netflix agar Media Arus Baru tidak menjadi ladang polarisasi.
2. Pandji Pragiwaksono diharuskan meminta maaf kepada NU, Muhammadiyah, dan Masyarakat Umum serta bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah menimbulkan keresahan dan memecah belah bangsa secara lisan dan tulisan di media sosial di depan publik.
3. Aparat Penegak Hukum diminta untuk menyelidiki dugaan tindak pidana ujaran Kebencian, Penghasutan, Rasisme, Fitnah dan Propaganda yang memecah belah bangsa.
4. Menegaskan bahwa kebebasan berekspresi harus selalu bersinergi dengan tanggung jawab moral, hukum, dan kebangsaan.

Aksi demonstrasi tersebut berlangsung damai dengan berbagai atribut dan poster yang berisi tulisan.

“NU dan Muhammadiyah telah Mengabdi dan Berperan besar bagi Bangsa dan Negara bahkan sebelum kemerdekaan, Pandji bisa apa? ” adalah salah satu tulisan dalam poster yang terlihat selama aksi berlangsung.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS