Bukan Fitch, Konflik Global Jadi Biang Kerok Lonjakan Yield SBN

2 menit membaca
Lydia Natali
Ekonomi - 06 Mar 2026

TEMUANRAKYAT, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penurunan proyeksi peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s tidak memberikan dampak signifikan terhadap imbal hasil surat utang Indonesia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ia menjelaskan, setelah kedua lembaga tersebut mengubah outlook utang RI dari stabil menjadi negatif, dampaknya terhadap imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) dengan tenor 10 tahun hanya sebesar 2 basis points (bps) atau 0,02% poin.

“Jika hanya outlook yang berubah, dampaknya tidak terlalu besar. Saya ingat bahwa hanya terjadi peningkatan 2 bps pada surat utang 10 tahun,” ungkap Purbaya di kantornya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Purbaya menambahkan bahwa tekanan terbesar pada kenaikan yield terjadi saat pecahnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel. Ketika perang itu terjadi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 30 basis points atau 0,3%.

“Ketika ada gangguan dari perang tersebut, itu yang menyebabkan kenaikannya mencapai 30 basis points,” jelas Purbaya.

Walaupun ada peningkatan yield, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah masih mampu mengelola imbal hasil surat utang dengan cara mengendalikan likuiditas domestik. Ia berpendapat ini menjadi alasan mengapa tekanan di pasar SBN tidak terlalu besar sejauh ini.

“Keuangan akan mengatur kasnya untuk memastikan likuiditas di pasar tetap mencukupi,” jelasnya.

Namun, perlu dicatat bahwa imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia (SBN) untuk tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam enam bulan. Hal ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas jual di pasar di tengah ketegangan geopolitik yang tinggi di Timur Tengah.

Menurut data dari Refinitiv, yield SBN tenor 10 tahun Indonesia pada akhir perdagangan, Selasa (4/3/2026) meningkat 1,14% menjadi 6,552%. Ini lebih tinggi dibandingkan posisi di perdagangan sebelumnya yang berada di level 6,478%. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 7,4 basis points (bps) hanya dalam sehari.

Posisi penutupan pada hari Selasa itu juga menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2025 atau dalam enam bulan terakhir.

Jika kita lihat lebih jauh, tekanan juga terlihat jika dibandingkan dengan penutupan minggu lalu. Pada hari Jumat (27/2/2026), yield SBN 10 tahun berada di level 6,411%. Ini berarti hanya dalam dua sesi perdagangan pertama minggu ini, yield telah melonjak sekitar 14,1 bps.

Kenaikan yield ini mencerminkan penurunan harga obligasi, yang menunjukkan bahwa investor cenderung menjual kepemilikan surat utang pemerintah di tengah meningkatnya risiko.

Bagikan Disalin
CLOSE ADS