Bikin Haru! Kisah Anak Desa dari Ciamis Bungkam Keraguan Hingga Jadi Juara Duta KIP UIN Bandung

3 menit membaca
Lydia Natali
Pendidikan - 19 Nov 2025

TEMUANRAKYAT, BANDUNG – Teringat kata pepatah jaman dulu hasil tidak akan mengkhianati usaha nampaknya sangat tepat menggambarkan perjalanan Sevia Eka Juwita. Bermula dari keraguan di tengah padatnya jadwal akademik, mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum ini berhasil membuktikan diri dengan menyabet gelar 2nd Runner Up (putri) Duta Keterbukaan Informasi Publik (KIP) UIN Bandung 2025.

Perjalanan Sevia tidaklah mudah. Bersaing dengan 88 pendaftar dari berbagai fakultas, ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Program Studi Hukum Tata Negara yang berhasil menembus babak grand final hingga meraih juara.

Berawal dari Keraguan Menjadi Pembuktian

Kisah ini bermula dari sebuah unggahan Instagram yang muncul berulang kali di beranda media sosial Sevia. Meski informasi pendaftaran duta tersebut terus muncul seolah memberi kode, keraguan sempat menyelimuti benaknya. Jadwal organisasi yang padat dan tuntutan akademik membuatnya berpikir dua kali.

“Jadwal terasa penuh tidak bersisa, hari terasa tidak cukup 24 jam. Saya sempat ragu apakah punya energi dan kapasitas untuk mendaftar,” ungkap Sevia kepada temuan rakyat (19/11/2025) sambil mengenang masa-masa awal pendaftaran.

Namun, prinsip hidup “Lakukan. Tunjukkan. Buktikan.” menjadi pendorong utamanya. Sevia meyakinkan diri bahwa keterbukaan informasi publik bukan sekadar kewajiban institusi, melainkan hak mahasiswa yang harus diperjuangkan.

Mengusung Inovasi SAKTI

Lolos ke tahap wawancara hingga menjadi finalis, Sevia tidak datang dengan tangan kosong. Dalam tahap pembekalan, ia merancang sebuah inovasi bernama SAKTI (Sosialisasi Aktif Keterbukaan Informasi dan Dokumentasi).

Inovasi ini lahir dari keprihatinan Sevia melihat masih banyak mahasiswa yang belum sadar akan hak informasi mereka. “Walaupun inovasinya sederhana, saya percaya sesuatu yang konsisten dapat memberikan dampak jangka panjang,” jelasnya.

Tantangan semakin berat ketika tiga hari menjelang Grand Final, ia harus mengikuti pelatihan akademik intensif. Waktu persiapan menyusut drastis. Namun, bekal pengalaman organisasi sebagai anggota aktif Korps Protokol Pramuka UIN Bandung dan pengalamannya sebagai Juara 2 MC Competition tingkat Jawa Barat memberinya mental baja untuk tetap tampil prima.

Mimpi Besar Anak Desa

Puncak ketegangan terjadi saat seleksi mengerucut dari 22 finalis, menjadi 12 besar, lalu 6 besar, hingga akhirnya nama Sevia Eka Juwita dipanggil sebagai juara. Bagi gadis yang tumbuh di desa Kabupaten Ciamis dengan kesederhanaan ini, pencapaian tersebut bukan sekadar piala, melainkan persembahan untuk kedua orang tuanya.

“Saya lahir dari keluarga sederhana di Ciamis. Namun, saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti bermimpi. Anak desa pun bisa melangkah sejauh apa pun yang ia inginkan,” tutur Sevia dengan haru.

Melalui gelar barunya, Sevia berharap dapat memotivasi kaum intelektual muda untuk terus menggaungkan semangat transparansi dan akuntabilitas.

“Jangan pernah takut jatuh, sebab orang yang tidak pernah jatuh adalah orang yang tidak pernah berani melangkah,” pungkas Sevia menutup pembicaraan.

Kini, Sevia Eka Juwita siap mengemban amanah sebagai Duta, memastikan bahwa mahasiswa hadir sebagai pihak yang memahami hukum, regulasi, dan transparansi demi lingkungan akademik yang lebih sehat.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS