Belajar dari Bantar Gebang: Menata Ulang Sistem Sampah Tangerang Selatan

3 menit membaca
Dinar Soleha
Opini - 31 Des 2025

TEMUANRAKYAT, OPINI – Permasalahan sampah di Tangerang Selatan memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan belum sepenuhnya sejalan dengan laju pertumbuhan kota. Penumpukan sampah yang sempat terjadi di ruang publik menandakan adanya kelemahan sistem, terutama ketika fasilitas pembuangan akhir mengalami gangguan.

Kondisi ini berbeda dengan Bantar Gebang yang sejak awal dirancang sebagai pusat pembuangan skala besar, namun justru menghadapi persoalan yang lebih kompleks akibat volume sampah yang sangat masif dan terus meningkat setiap hari.

Langkah Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam menetapkan status darurat menunjukkan adanya respons cepat terhadap krisis, terutama untuk mengatasi dampak langsung yang dirasakan masyarakat.

Namun, pendekatan ini masih bersifat reaktif. Di sisi lain, Bantar Gebang mencerminkan model penanganan jangka panjang yang lebih terstruktur, meskipun tetap menuai kritik karena masih bertumpu pada sistem landfill dan belum sepenuhnya mampu mengurangi timbunan sampah secara signifikan.

Ketergantungan Tangerang Selatan pada satu titik pembuangan utama menunjukkan rapuhnya sistem ketika terjadi gangguan operasional. Hal ini menjadi pelajaran penting jika dibandingkan dengan Bantar Gebang, yang meski memiliki fasilitas lebih besar dan teknologi tambahan seperti pengolahan energi dari sampah, tetap menghadapi ancaman kelebihan kapasitas.

Keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah yang terlalu berfokus pada pembuangan akhir tidak lagi relevan untuk jangka panjang.

Dari sisi lingkungan dan sosial, dampak yang dirasakan juga berbeda. Tangerang Selatan mengalami gangguan langsung pada kenyamanan dan kesehatan warga akibat sampah yang menumpuk di permukiman.

Sementara itu, Bantar Gebang menghadapi masalah pencemaran yang lebih luas, termasuk kualitas udara, air tanah, serta persoalan sosial masyarakat yang hidup di sekitar area pembuangan. Skala permasalahan yang berbeda ini menegaskan bahwa solusi yang dibutuhkan tidak bisa disamaratakan.

Ke depan, Tangerang Selatan dapat belajar dari pengalaman Bantar Gebang, khususnya tentang pentingnya perencanaan jangka panjang dan diversifikasi metode pengolahan sampah. Penguatan pengelolaan di hulu melalui pemilahan, edukasi masyarakat, dan pengolahan berbasis komunitas perlu menjadi prioritas agar kota tidak terjebak pada krisis serupa.

Baik Tangerang Selatan maupun Bantar Gebang sama-sama menunjukkan bahwa pengelolaan sampah harus beralih dari sekadar memindahkan masalah, menuju sistem berkelanjutan yang melindungi lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.

***

*)Penulis adalah Hikmatul Aulia, Mahasiswi Jurnalistik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi temuanrakyat.com

*)Tulisan ini merupakan tinjauan dari perspektif Hukum, Politik dan Kebijakan Publik

*)Rubik opini di website Temuan Rakyat untuk umum. Panjang naskah 600 kata. Dan harus menyertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksitemuanrakyat@gmail.com

*)Redaksi Temuan Rakyat berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS