TRENDING

Jalan Swadaya Makin Hancur, Warga Gadu Timur Keluhkan Mobil MBG yang Kerap Ngebut

3 menit membaca
Kartika Putri
Daerah - 05 Sep 2026

TEMUANRAKYAT, SUMENEP – Kondisi jalan di Dusun Gu’ Tabun Timur, Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, dikeluhkan warga karena mengalami kerusakan yang diduga berkaitan dengan intensitas kendaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melintas setiap hari.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kendaraan tersebut disebut dapat melintas antara dua hingga enam kali dalam sehari dengan kecepatan cukup tinggi, sementara jalan yang rusak selama ini justru diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.

Warga setempat menyebut kerusakan jalan semakin menjadi perhatian karena akses tersebut merupakan jalan yang digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Permukaan aspal di sejumlah bagian jalan kini mulai tergali dan terkikis, sehingga kerikil dari material jalan berserakan di sepanjang jalur yang dilalui warga.

Selain intensitas kendaraan, laju mobil MBG yang dinilai cukup cepat saat melintas juga dianggap memperparah kondisi jalan. Kerikil yang berserakan tersebut bahkan kerap dibersihkan secara langsung oleh masyarakat dan para siswa yang melintas agar tidak mengganggu maupun membahayakan pengguna jalan.

Salah seorang warga berinisial W mengatakan, kendaraan MBG hampir setiap hari melintasi jalan di kawasan tersebut. Dalam sehari, mobil pengangkut makanan itu disebut bisa melewati jalan yang sama hingga beberapa kali.

“Setiap hari pasti ada yang melintas. Kadang bisa dua sampai enam kali dalam sehari. Kalau lewatnya cepat, jalan yang kondisinya seperti ini semakin mudah rusak,” kata W kepada awak media (5/9/2025).

Menurut warga, persoalan tersebut sebelumnya juga sempat dipertanyakan kepada pihak yang membawa kendaraan MBG. Warga mempertanyakan cara berkendara karena mobil yang digunakan bukan kendaraan milik pribadi sehingga dinilai tidak cukup memperhatikan kondisi jalan yang dilewati.

Warga lainnya, R, berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada saling menyalahkan antara masyarakat dan pengendara. Menurutnya, perbaikan jalan menjadi kebutuhan utama karena selama ini masyarakat harus bergotong royong memperbaiki akses tersebut secara mandiri.

“Jalan ini diperbaiki sendiri oleh masyarakat. Kami kumpulkan hasil dari pertanian, kemudian digunakan untuk memperbaiki jalan. Kalau rusak lagi, tentu masyarakat yang harus memperbaiki,” ujarnya.

Ia menjelaskan, warga selama ini mengandalkan sumbangan secara individu serta hasil pertanian untuk mendukung perbaikan jalan. Proses perbaikannya juga dilakukan melalui kerja bakti bersama masyarakat sekitar.

Kondisi aspal yang semakin terkikis membuat warga harus lebih sering memperhatikan badan jalan. Kerikil yang terlepas dari permukaan aspal berserakan dan sebagian harus disingkirkan secara manual oleh warga maupun siswa yang melintas.

Karena itu, warga berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat turun langsung melihat kondisi jalan di Dusun Gu’ Tabun Timur. Mereka juga meminta kendaraan yang melintas memperhatikan kondisi jalan serta tidak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Warga menilai keberadaan program MBG tetap penting bagi masyarakat, namun pelaksanaannya di lapangan diharapkan turut memperhatikan kondisi lingkungan dan infrastruktur yang digunakan sebagai akses distribusi.

Masyarakat berharap ada solusi bersama, baik berupa perbaikan jalan maupun pengaturan akses kendaraan MBG, sehingga aktivitas distribusi makanan tetap berjalan tanpa menambah beban kerusakan jalan yang selama ini dibangun dan dirawat secara swadaya oleh warga.

Bagikan Disalin
CLOSE ADS