TEMUANRAKYAT, OPINI – Rencana masuknya sejumlah pabrik asal Tiongkok ke Kawasan Industri Wiraraja Madura di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menjadi kabar yang layak disambut positif.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kerja sama ini merupakan bagian dari skema Two Countries Twin Parks (TCTP) antara Indonesia dan Tiongkok, yang melibatkan Wiraraja Madura Industrial Estate dan Guangdong (Zhanjiang/Fenyong) ASEAN Industrial Park.
Penantaganan kerangka kerjasama strategis ini difasilitasi langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta
awal Agustus lalu.
Peluang yang Layak Diperjuangkan
Kehadiran kawasan industri terintegrasi ini sejalan dengan komitmen Pemkab dan Himpunan kawasan Industri (HKI) Indonesia yang menyatakan akan mengutamakan pekerja lokal, lengkap dengan pelatihan agar tenaga kerja Madura siap memenuhi kebutuhan industri modern.
Jika direalisasikan dengan baik, proyek ini bukan hanya soal pabrik dan mesin, melainkan juga soal transfer keterampilan, pertumbuhan sektor pendukung seperti logistik dan pergudangan, serta pemerataan pembangunan yang selama ini dirasa timpang antara Madura dan Jawa daratan.
Namun, Jangan Lupakan Pekerjaan Rumah Ekologis
Di balik optimisme itu, ada satu catatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja: dampak lingkungan. Pembangunan kawasan industri berskala besar apalagi yang mencakup pabrik tekstil dan plastik, dua sektor yang dikenal rawan menghasilkan limbah cair dan padat memerlukan mitigasi ekologis yang matang sebelum, bukan sesudah, kerusakan terjadi.
Beberapa hal berikut layak menjadi perhatian bersama, baik oleh investor, pemerintah daerah, maupun masyarakat sipil di Madura:
Menyeimbangkan Pertumbuhan dan Kelestarian
Investasi asing yang masuk ke Bangkalan adalah peluang besar yang sudah sepatutnya
didukung, mengingat manfaat ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang dijanjikannya.
Namun, pembangunan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika pertumbuhan industri
berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis. Pengalaman berbagai kawasan industri
di Indonesia menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan pencemaran sungai, penurunan
kualitas air tanah, hingga konflik lahan jauh lebih mahal untuk dipulihkan ketimbang
biaya mitigasi yang dikeluarkan di awal.
Dengan perencanaan lingkungan yang matang sejak fase awal, kawasan industri di Bangkalan
berpotensi menjadi contoh bagaimana investasi asing dan kelestarian lingkungan dapat
berjalan seiring, bukan saling mengorbankan.
***
*)Penulis adalah Ainul Najib Formatur Ketua umum Dermaga Mahasiswa Bangkalan (DMB)
Jabodetabek.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi temuanrakyat.com
*)Tulisan ini merupakan tinjauan dari perspektif Hukum, Politik dan Kebijakan Publik
*)Rubik opini di website Temuan Rakyat untuk umum. Panjang naskah 600 kata. Dan harus menyertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksitemuanrakyat@gmail.com
*)Redaksi Temuan Rakyat berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.