“Dan Kami telah meninggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al-Insyirah: 4)
TEMUANRAKYAT – Di tengah zaman yang riuh oleh kecemasan, kesenjangan sosial, dan krisis ekonomi politik, ayat ini seperti pengingat yang tenang namun tegas: apa yang memang pantas bagimu, tidak akan dihalangi oleh siapa pun.
Tetapi, apakah “pantas” itu takdir yang turun dari langit tanpa ikhtiar? Ataukah ia adalah hasil pergulatan panjang antara kehendak Ilahi dan kerja historis manusia?
Tulisan ini hendak menelusuri ayat tersebut bukan sekadar sebagai teks suci, melainkan sebagai peta moral dan sosial bagi masyarakat yang sedang diuji oleh zaman.
Surah Al-Insyirah turun pada periode Makkah, ketika Nabi Muhammad berada dalam tekanan sosial, psikologis, dan politik yang luar biasa. Kota Makkah abad ke-7 bukan sekadar ruang spiritual, melainkan meliputi ruang pertarungan ekonomi dan kekuasaan. Kaum Quraisy mengendalikan jalur perdagangan, simbol-simbol religius, dan legitimasi sosial.
Dalam konteks itu, ayat keempat: “Wa rafa’na laka dzikrak” adalah janji yang melampaui keadaan faktual.
Secara empiris, Nabi saat itu dimarginalkan. Namun sejarah, membuktikan sebaliknya, Nama Muhammad kini disandingkan dengan nama Allah dalam azan di seluruh penjuru bumi.
Dalam kacamata politik dan sejarah, ini adalah contoh bagaimana legitimasi moral dan kekuatan spiritual bisa mengalahkan hegemoni material. Antonio Gramsci menyebutnya sebagai perebutan hegemoni, bahwa kekuasaan bukan hanya soal senjata dan uang, tetapi soal makna dan kesadaran.
Ayat ini bukan sekadar penghiburan personal; ia adalah keyakinan dan kesabaran revolusioner tentang perubahan struktur sejarah.
Kata “pantas” dalam tafsir sosial dapat dibaca sebagai kelayakan etis. Bukan sekadar ingin, tetapi layak. Di sinilah kita masuk ke dalam perdebatan klasik antara determinisme dan kebebasan.
Dalam literatur filsafat, Baruch Spinoza berbicara tentang determinisme kosmik: segala sesuatu mengikuti hukum ilahi yang rasional.
Namun dalam eksistensialisme, Jean-Paul Sartre menegaskan kebebasan manusia hadir untuk menentukan maknanya sendiri.
Islam, melalui ayat ini, seperti menjembatani keduanya: Allah tidak menghalangi yang pantas, tetapi kepantasan itu sendiri dibentuk melalui perbuatan, kesabaran, dan integritas.
Dalam kajian ilmiah tentang meritokrasi, masyarakat sering mengklaim bahwa mereka memberi ruang bagi yang layak. Namun realitas menunjukkan distorsi. Akses pendidikan timpang, nepotisme politik merajalela, dan tentakel oligarki menguasai ekonomi. Semua hal ini kerap menjadi penghalang. Menciptakan penindasan struktural di tengah masyarakat.
Di sinilah ayat ini menjadi kritik sosial: jika sesuatu memang layak bagimu, tidak ada struktur tirani yang bisa menghalanginya selamanya. Sejarah membuktikan, struktur yang tidak adil pada akhirnya runtuh oleh kontradiksinya sendiri sebagaimana yang dikatakan Karl Marx.
Masyarakat Hari Ini: Krisis Kelayakan
Kita hidup di era di mana popularitas sering dianggap sebagai kelayakan. Media sosial menjadikan algoritma sebagai hakim moral baru. Viral lebih dihargai daripada benar. Kaya lebih dihormati daripada jujur.
Max Weber menyebut pergeseran dari otoritas kharismatik dan tradisional menuju rasional-legal. Namun kini kita menyaksikan transformasi lain: otoritas algoritmik.
Apa yang sering dilihat, dianggap penting. Di tengah itu, ayat ini adalah penyeimbang: bukan algoritma yang menentukan kepantasan, bukan pula senior, melainkan ukuran ilahi yang melampaui statistik.
Ketika generasi muda merasa tersingkir oleh sistem yang tak adil: pekerjaan langka, harga rumah melambung, ruang ekonomi politik terasa eksklusif, ayat ini bukan candu yang membuat pasrah seperti uraian Karl Marx yang sering disalahartikan.
Ia adalah etika perjuangan: perbaiki dirimu, perkuat integritasmu, dan yakinlah bahwa struktur yang menghalangi tidaklah abadi.
Sejarah tidak pernah kekurangan memberikan contoh dan pelajaran bagi mereka yang berakal.
Indonesia memberi contoh, ketika B. J. Habibie diremehkan sebagai “teknokrat yang terlalu idealis”, ia tetap bekerja dalam sunyi. Ketika krisis 1998 meledak, sejarah menempatkannya pada posisi transisi yang menentukan. Ia mungkin tidak populer dalam semua kalangan, tetapi waktu membuktikan relevansinya. Habibie berhasil menangani masa transisi yang sulit.
Kisah lain datang dari Nelson Mandela. Dipenjara 27 tahun. Secara politik, ia dihalangi. Secara struktural, ia dimatikan. Namun kepantasan moralnya sebagai simbol keadilan tidak bisa dibungkam. Apartheid runtuh, sementara namanya ditinggikan oleh waktu dan sejarah.
Psikologi modern memberikan perkakas analisanya lewat Angela Duckworth: grit (ketekunan dan daya tahan) sebagai faktor penting keberhasilan.
Namun ayat ini melampaui grit. Ia berbicara tentang korespondensi antara etika dan sejarah. Bahwa waktu, pada akhirnya, berpihak pada yang layak.
Sering kali ayat-ayat tentang janji ilahi disalahpahami sebagai legitimasi pasif. Padahal, Surah Al-Insyirah secara keseluruhan berbicara tentang perjuangan: “Fa idza faraghta fanshab” (maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan tetaplah bekerja keras untuk urusan lain).
Ini bukan teologi kemalasan. Ini teologi revolusioner.
Dalam kacamata filosofis, resilience modern, individu yang memiliki meaning framework lebih mampu bertahan dalam tekanan. Meminjam Viktor Frankl, penyintas kamp konsentrasi Nazi, menyebut makna adalah daya tahan terdalam manusia.
Ayat ini hendak menegaskan: jerih payah yang etis tidak akan pernah sia-sia.
Peringatan bagi Zaman yang Goyah
Sejarah adalah sungai panjang. Ia mengalir melewati kerajaan, revolusi, dan peradaban. Banyak nama yang dulu dielu-elukan kini tenggelam sebagai catatan kaki. Banyak pula yang dulu dihina kini dikenang sebagai pelita.
Apa yang membedakan? Kelayakan dan keberanian moral.
Ayat ini mengajarkan bahwa kehormatan bukan produk pencitraan, melainkan konsekuensi dari kesesuaian antara perilaku dan nilai, keselarasan antara ucapan dan tindakan.
Dalam dunia yang serba instan, ini adalah pesan subversif:
Bangunlah kualitas, bukan sensasi.
Bangunlah integritas, bukan ilusi.
Karena jika sesuatu memang pantas bagimu: jabatan, reputasi, cinta, atau peran sejarah sekalipun.
Maka, tidak ada kekuatan yang mampu menghalangi untuk selamanya.
Namun ayat ini juga mengandung implikasi sebaliknya: jika sesuatu tidak pantas bagimu, sekalipun kau raih dengan intrik, ia tak akan bertahan.
Sejarah penuh dengan aktor dan kekuasaan yang berdiri di atas manipulasi. Mereka mungkin menang sesaat, tetapi legitimasi rapuh tidak pernah panjang umur. Ibn Khaldun telah menulis tentang siklus kekuasaan: kekuatan yang lahir dari solidaritas moral akan bertahan lebih lama dibanding yang lahir dari keserakahan.
Maka bagi para pemimpin hari ini, pesan ayat ini adalah cermin:
Apakah posisi yang kau duduki adalah hasil kelayakan atau sekadar intrik politik?
Bagi masyarakat, ia adalah pengingat: Perjuangan panjang tidak sia-sia, selama ia dibangun di atas kepantasan etis dan keberanian moral.
Tabik
*)Penulis bernama Mikhail Adam, Penggiat Literasi.
Tidak ada komentar